Heboh Dirty Vote, Pengamat: Menunjukkan Kegelisahan Kolektif Cendekiawan dan Masyarakat

INDOPOS.CO.ID – Analis Sosial Politik Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Ubedilah Badrun menilai, munculnya film dokumenter Dirty Vote yang ditonton jutaan orang menunjukkan tanda kegelisahan kolektif terkait kecurangan Pemilu 2024. Itu tentu dirasakan seluruh lapisan masyarakat.

“Baik (menunjukkan) kegelisahan kolektif kaum cendekiawan, maupun kegelisahan masyarakat secara umum,” kata Ubedilah saat dikonfirmasi wartawan, Jakarta, Selasa (13/2/2024).

Sebab film Dirty Vote, hasil analisnya memiliki basis hasil riset dan investigasi yang mendalam, kemudian direspons dengan cara-cara memegang teguh prinsip-prinsip metodologi ilmiah.

“Jadi secara akademik, film dokumenter Dirty Vote ini dapat dipertanggungjawabkan,” ucap Ubedilah.

Menurutnya, makin banyaknya masyarakat yang menonton itu menunjukkan ada semacam dahaga kejujuran dari publik. Sehingga mereka mau nonton untuk mengungkap fakta di balik kontestasi Pemilu.

“Semacam melakukan konfirmasi dan mendalami seberapa jahat sebuah kekuasaan yang mengabaikan kejujuran, mengabaikan hal – hal etis dan melabrak serta memanipulasi hukum dalam proses elektoral,” ujar Ubedilah.

Meski tidak mudah membuat rakyat percaya dengan film dokumenter tesebut, apalagi tingkat pendidikan masyarakat kita mayoritas lulusan SMP. Namun, menjawab kegusaran masyarakat di tengah hiruk pikuk politik.

“Secara perlahan film Dirty Vote tersebut, membuat penasaran kelompok masyarakat menengah ke bawah,” jelasnya.

“Media film masih menarik untuk masyarakat bawah. Pada titik itulah perubahan cara berfikir masyarakat menengah ke bawah dimungkinkan terjadi,” tambah Ubedilah.

Dokumenter berjudul Dirty Vote sudah ditonton jutaan orang setelah tayang pada, Minggu (11/2/2024). Pemilihan waktu penayangan itu mengambil momentum 11.11, yaitu tanggal 11 Februari bertepatan hari pertama masa tenang pemilu dan disiarkan pukul 11.00 WIB di kanal Youtube.

Dirty Vote diketahui sebagai dokumenter eksplanatori, yang disampaikan tiga ahli hukum tata negara yang membintangi film ini. Mereka adalah Zainal Arifin Mochtar, Bivitri Susanti, dan Feri Amsari. (dan)

Baca Juga  Tak Hanya Palestina, di Pembukaan ADMM Prabowo Serukan Perdamaian di Myanmar

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *