Lampu Merah Masalah Beras, Negara Bisa Runtuh

INDOPOS.CO.ID – Yang disayangkan dalam debat Capres dan Cawapres sampai lima putaran ini tidak menjawab dan memberikan secara konkrit khusus terkait kondisi Pangan dan Lingkungan. Sehingga bangsa ini tetap dalam ketidak jelasan terkait kebijakan Pangan dan Lingkungan pasca pemilu yang akan datang. Program Pangan berkelanjutan harus satu sistem pemikiran utuh antara konsep Pertanian dan Lingkungan sehingga mampu memandirikan petani diatas lingkungan yang mendukung.

Sebagai contoh dalam debat kemarin persoalan kelangkaan pupuk hanya di selesaikan dengan memperbesar subsidi sehingga diharapkan pupuk tidak langka lagi. Ini adalah bentuk konsep yang tidak cerdas (tolol) bahkan mengulangi kesalahan-kesalahan yang lalu. Persoalan dan carut marutnya sektor pangan ini adalah akibat rusak dan menurunnya daya dukung lingkungan (tanah, air & udara) akibat diracun oleh pupuk dan pestisida kimia sejak revolusi hijau tahun 1975 an. Dan ini adalah skenario tersistematis asing agar bangsa ini tidak boleh jadi negeri gudang pangan dunia. Perjalanan bangsa yang lebih dari 70 tahun ini tidak pernah melahirkan pemimpin yang berani lepas dari penindasan pangan ini. Dan sebaliknya semakin kesini justru semakin parah kondisi arah kebijakan pangannya.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat impor beras sepanjang 2023 mencapai 3,06 juta. Angka impor tersebut bahkan menjadi yang tertinggi dalam 10 tahun terakhir. Selama 5 tahun terakhir, impor beras di 2023 merupakan yang terbesar, yakni sebanyak 3,06 juta ton, sehingga volume impor beras tahun lalu melonjak hingga 613,61 persen dibandingkan tahun 2022 yang tercatat sebanyak 429,2 ribu ton.

Sehingga jika kebijakan pangan ini masih terus seperti ini maka angsa ini segera kolaps & jangan bermimpi menjadi Indonesia Emas 2045. Kebijakan Pangan harus betul-betul dibangun dari pondasi kemandirian mulai dari hulu sampai dengan hilir. Konsep “Murah-Mudah-Terukur” harus menjadi standar pengembangan : agar tanah yang sudah rusak cepat kembali sehat dan punya daya dukung maksimal, agar petani-petani miskin dengan biaya murah mampu lipat gandakan hasil panen. Hal ini sangat mudah dan realistis dilakukan di negara tropis-volkanis-kepulauan yang kaya akan sumber daya alam, sehingga bioenergi yang berasal dari biomasa tersebut dengan cepat dan murah bisa ubah (diurai oleh kekuatan alami mikroba) untuk dijadikan pakan, pupuk dan energi untuk menopang produksi pangan. Ini semestinya yang harus menjadi konsep besar suatu bangsa agraris yang mandiri berdaluat.

Baca Juga  Tempat Beli Barang Bekas Di Ambon Terbukti

Konsep ini sudah dilakukan oleh Yayasan Anugrsah Nusa Bangsa Indonesia (ANSA) didukung oleh Kantor Bank Indonesia walaupun skala demplot. Dimana system pertanian terintegrasi dengan teknologi Biosoildam MA-11 temuan Dr. Nugroho Widiasmadi menjadi dasar pengendalian inflasi pangan.

Program ini dimulai dari didirikannya Mini Laboratorium Produksi Mokroba Alfaafa (MA-11) disuatu desa yang operatornya juga oleh petani sendiri yang dilatih secara ketat. Dengan produksi mikroba ini diharapkan akan mengurai semua limbah biomassa, seperti limbah ternak mejadi pupuk dan pestisida nabati & biogass, limbah pertanian menjadi pakan dan Bioetanaol. Sehingga suatu desa akan mudah, murah dan cepat membuat lumbung pupuk & lumbung pakan untuk menjadikan lumbung pangan berkelanjutan. Bahan material biomasa ini akan terserdia sepanjang masa karena sumber daya akan terus tumbuh & berputar di desa tersebut untuk menjadi “pupuk-pakan & energi terbarukan”

Saat ini sudah ada 55 Mini Laboratorium Produksi Mikroba Alfaafa (MA-11), setiap Laboratoriumnya melayani beberapa wilayah Kabupaten dan sangat membantu bagi para kelompok tani yang menjalankan SOP Pertanian terintegrasi, selain murah & hasil meningkat , juga menghasilan tanaman yang kuat terhadap iklim ekstrim seperti panas berkepanjangan, hujan badai, hujan es, banjir dll. Salah satu bukti konsep ini berhasil contohnya hasil Panen padi baru-baru ini pada 1 Februari 2024 di Desa Sumber Makmur Kecamatan Lubuk Pinang ( Kompas : Petani Milenial Bengkulu Torehkan Sejarah Panen Padi 13 Ton Per Hektar
: https://regional.kompas.com/read/2024/02/02/112603678/petani-milenial-bengkulu-torehkan-sejarah-panen-padi-13-ton-per-hektar?page=all.)

Bukti keberhasilan lain juga telah banyak menyebar di daerah-daerah dimana pada demplot berbagai macam komoditas seperti cabe, bawang merah, padi, jagung , singkong, porang , kopi, cacao dll yang diinisiasi oleh Kantor Bank Indonesia di hampir semua KPW. Sayangnya Pemerintah Daerah tidak segera memperluas Demplot menjadi Demfarm hanya karena masih berkutat dengan kebijakan droping dari pusat pupuk kimia. Teknologi ini lahir disaat yang tepat karena mampu menjawab krisis Lingkungan sekaligus krisis Pangan. Sehingga konsep Agrokonservasi Biosildam MA-11 telah mermbawa Dr Nugroho Widiasmadi memperoleh Penghargaan Nasional Kalpataru 2024. Semestinya dengan kondisi pupuk langka, perubahan iklim global dan adanya tekanan ekonomi grlobal maka teknologi Biosoildam MA-11 ini dapat menjadi solusi nasional karena mampu mengantar petani menjadi mandiri, lingkungan terjaga dan Negara Berdaulat Pangan secara penuh dan berkelanjutan. (ibs)

Baca Juga  Legislator PDIP Usulkan Money Politics Dilegalkan, Begini Tanggapan KPK dan ICW

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *