Musisi Digo Dz Cs Pesan Ini Pada Tiga Capres Lewat Lagu “Hikmat dan Bijaksana”

INDOPOS.CO.ID – Tergelitik dengan kondisi perpolitikan di tanah air akhir-akhir, musisi senior Digo Dz dan rekan-rekan berencana merilis sebuah single dengan judul “Hikmat dan Bijaksana” untuk menggambarkan sosok pemimpin negeri yang diharapkan.

Dijumpai wartawan kala melakukan rekaman di kawasan Pasar Baru, Jakarta Pusat, Selasa (12/12/2023) Digo mengungkapkan keprihatinan terhadap kondisi politik di tanah air akhir-akhir ini.

“Kondisi hukum di tanah air yang carut-marut, terutama pasca putusan Makamah Konstitusi (MK) yang menjadi kontroversi, serta berdampak Ketua MK dicopot dan melanggar kode etik.”

“Kami merasa bahwa ada yang salah dari kondisi saat ini, ada aturan yang dilanggar, maka kami berharap ke depan ada pemimpin yang punya hikmat kebijaksaan seperti yang tertuang dalam Pancasila seperti lagu kami ini,” tutur Digo yang didampingi oleh Moel Vallo.

Dia mengatakan seorang pemimpin harus mau bermusyawarah dan tidak memaksakan kehendak seperti yang terjadi akhir-akhir ini.

“Kami merasa kondisi yang terjadi menggambarkan bahwa hikmat kebijaksaan para pemimpin negeri ini sudah tergerus dan mungkin tidak ada lagi. Kami melihat banyak pemimpin kita yang sudah tidak mendengar suara hati nurani rakyat lagi. Maka kami sebagai seniman ingin menyuarakan suara hati rakyat itu,” paparnya.

“Kami sangat peduli dengan kondisi negara saat ini. Karena itu kami sengaja membuat lagu berdasarkan sila-sila dari Pancasila dan kami mulai berpikir bahwa sila keempat cocok untuk digarap menjadi lirik tentang pemimpin yang didambakan rakyat,” kata penulis mars OI ini.

Digo menjelaskan, sila keempat inilah yang sulit diucapkan dan dilaksanakan oleh para pemimpin di negeri ini. “Sila keempat Pancasila berbunyi kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, namun yang terjadi saat ini ada pemimpin yang gemar menyuap, melanggar aturan,” tandasnya.

Baca Juga  Zinc Shampoo Gelar Trail Run Bertajuk 'Dare You To Be More'

Maka lewat lagu “Hikmat dan Bijaksana”, Digo Cs berharap, kesadaran masyarakat bisa tergugah untuk tidak memilih pemimpin yang seperti itu.

“Kami berharap masyarakat paham, bahwa Indonesia adalah rumah mereka, jadi mereka harus peduli . Jangan sampai kita sebagai pemilik tidak tahu, Jadi ini murni adalah sebagai sebuah pesan moral,” katanya.

Sementara Moel Vallo menambahkan saat ini kita seperti tak berada dalam rumah kita sendiri.

“Saat ini saya seperti tidak percaya bahwa Indonesia adalah rumah kita. Karena kalau Indonesia rumah kita, kita tahu dimana kunci rumahnya, tapi saat ini tidak demikian. Masyarakat seperti sedang dibodohi dan kita tidak tahu apa yang dikerjakan para pemimpin itu. Sebab semua seperti kamuflase. Dari sanalah tercipta lagu ini. Karena kita butuh pemimpin bijak, berhikmat, mau musyawarah dan mampu mensejahterakan rakyatnya,” tuturnya.

Dia menambahkan lagu itu untuk mewakili hati rakyat, karena mewakili hati rakyat susah.

“Kita punya Pancasila, namun adakah pemimpin yang mencitrakan pancasila itu. Kini semua sudah banyak yang tidak sesuai, Lewat lagu ini, kami berharap dari tiga calon presiden tersebut, yang memiliki kebijaksaan dan punya sifat ksatria yang sejati.

Lagu ini, juga bisa jadi refleksi bagi para Capres/Cawapres, juga para Caleg apakah sudah berhikmat dan bijaksana, sehingga layak dipilih menjadi pemimpin di Indonesia,” tuturnya.

Moel menyatakan sebenarnya, lagu ini terinspirasi juga dari tokoh Wisanggeni dalam pewayangan yang terkenal bijaksana. “Ia dikenal sebagai pemberani, tegas dalam bersikap, serta memiliki kesaktian luar biasa namun juga bijaksana” tuturnya.

Sebagai catatan, Wisanggeni adalah nama seorang tokoh pewayangan dari serial Mahabharata versi Jawa. “Wisanggeni” dikenal sebagai anak Arjuna, seorang ksatria dari Pandawa yang mempersunting Dewi Batari Dresanala, putri Batara Brama dan Dewi Saraswati.

Baca Juga  Hari Bakti Pemasyarakatan Ke-60, Ini konsep Sistem Pemasyarakatan Indonesia Menteri Yasonna

Wisanggeni merupakan tokoh istimewa dalam pewayangan Jawa karena sikap ksatria dan kebijaksanaannnya, ia adalah satu-satunya tokoh yang sebelum terjadi Bharatayudha sudah menyerahkan diri menghadap Sang Hyang Wenang, karena tahu siapa dirinya, ya karena hikmat dan kebijaksanaannya telah mencapai penyadaran akan hidupnya. (gin)

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *